ZIARAH DI TUBAGUS ANGKE: GETARAN AMANAH DAN KEHORMATAN*

- Jurnalis

Sabtu, 3 Januari 2026 - 15:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Aku, Ahim Kesuma, memahami bahwa ziarah bukanlah perjalanan kaki, melainkan perjalanan niat.

Langkah boleh menuju makam, namun yang sesungguhnya bergerak adalah batin.
Maka pada hari itu, aku mendatangi makam Pangeran Wijaya Kesuma di Tubagus Angke, Jakarta Barat, bukan dengan maksud meminta keistimewaan dunia, melainkan untuk menyelaraskan kehendak manusia dengan garis amanah leluhur.
Di hadapan pusara itu, aku berdiri lama sebelum duduk.
Karena aku percaya:
tidak semua doa pantas langsung diucapkan—ada yang harus didiamkan terlebih dahulu.
Ketika akhirnya aku duduk bersila, dunia seolah mengecil.
Suara kota memudar, waktu melambat.
Yang tersisa hanyalah getaran halus—bukan suara, bukan bayangan—melainkan kehadiran nilai.
Pangeran Wijaya Kesuma tidak hadir sebagai sosok,
melainkan sebagai prinsip:
keteguhan, kehormatan, dan tanggung jawab yang diwariskan lintas generasi.
Aku membawa amanah dari seorang sahabat, anto (48), yang kini mengabdi di Kalimantan .
Amanah itu bukan permintaan jabatan,
melainkan kekuatan untuk layak memikul jabatan.
Dalam keheningan itu aku berkata, bukan dengan lisan, tetapi dengan kesadaran:
“Jika kehormatan memang harus dijaga,
maka kuatkanlah niatnya, bukan posisinya.
Jika ia harus naik, biarlah naik karena pantas,
bukan karena didorong nafsu.”
Saat itulah getaran supranatural terasa jelas—
berasal dari dasar tulang punggung, merambat ke dada, lalu berhenti di kepala.
Bukan getaran yang memaksa,
melainkan penegasan batin.
Aku mengerti satu hal penting:
👉 dukungan sejati bukan mengantar seseorang menuju puncak,
melainkan memastikan ia tidak kehilangan arah saat berada di sana.
Aku diminta—bukan diperintah, tapi disadarkan—untuk terus memberi dorongan yang bersifat menjaga, bukan menekan.
Dorongan agar ia tetap rendah hati di tengah hormat,
tetap jujur di tengah godaan,
dan tetap ingat bahwa jabatan hanyalah titipan waktu.
Dalam filosofi leluhur, kehormatan bukan sesuatu yang dicari,
melainkan sesuatu yang harus mampu dipertanggungjawabkan.
Angin yang lewat di area makam tidak dingin, tidak hangat—
namun menenangkan.
Seolah mengingatkan:
“Siapa pun yang kuat menjaga niatnya,
akan dijaga jalannya.”
Aku menutup ziarah tanpa janji besar.
Karena aku paham, leluhur tidak menuntut sumpah—
mereka menilai kesungguhan yang konsisten.
Sejak hari itu, aku memegang satu laku:
berkata secukupnya,
mendoakan seperlunya,
dan menjaga batin agar tidak tergoda merasa berperan lebih besar dari yang seharusnya.
Sebab dalam jalan sakral,
yang paling berbahaya bukan kegagalan,
melainkan merasa paling berjasa.
Dan jika kelak kehormatan itu benar-benar sampai kepada sahabatku di tanah Kalimantan,
maka aku berharap satu hal saja:
bukan agar namanya dikenal,
melainkan agar jejak langkahnya membawa kebaikan yang bertahan lebih lama dari jabatannya sendiri.
Baca Juga :  Pesan dari Penjaga Rimba Kahayan: Perjalanan Pertamaku ke Kalimantan Tengah

Penulis : Yasin Kesuma

Editor : redaksi Tikampost

Berita Terkait

Gudang Bangkai Mobil Tanah Hitam
Pesan dari Penjaga Rimba Kahayan: Perjalanan Pertamaku ke Kalimantan Tengah
Cerita Misteri Pasar Saddam Husen, Banjarmasin
Jawara Benteng Hadiri Festival Benda Fair, Perkuat Silaturahmi dan Budaya Lokal
Keluarga Besar Hitler S.Pd, SD Gelar Upacara Adat Tiwah Tabuh Pertama hingga Ketiga di Desa Tuwung
DITUDING PERLAKUKAN KARYAWAN SECARA TIDAK MANUSIAWI, INI PENJELASAN PIHAK MEGARIA TAHUNA
Camat Negeri Agung Hadiri Upacara Ngaben di Kampung Mulya Sari
Gerakan Pemuda Pencinta Ulama Menyambut Bulan Muharram Dengan Tablik Akbar

Berita Terkait

Senin, 5 Januari 2026 - 21:15 WIB

Gudang Bangkai Mobil Tanah Hitam

Sabtu, 3 Januari 2026 - 15:11 WIB

ZIARAH DI TUBAGUS ANGKE: GETARAN AMANAH DAN KEHORMATAN*

Sabtu, 27 Desember 2025 - 14:59 WIB

Pesan dari Penjaga Rimba Kahayan: Perjalanan Pertamaku ke Kalimantan Tengah

Kamis, 25 Desember 2025 - 08:21 WIB

Cerita Misteri Pasar Saddam Husen, Banjarmasin

Sabtu, 29 November 2025 - 20:44 WIB

Jawara Benteng Hadiri Festival Benda Fair, Perkuat Silaturahmi dan Budaya Lokal

Berita Terbaru