Aku, Ahim Kesuma, memahami bahwa ziarah bukanlah perjalanan kaki, melainkan perjalanan niat.
Karena aku percaya:
tidak semua doa pantas langsung diucapkan—ada yang harus didiamkan terlebih dahulu.
Suara kota memudar, waktu melambat.
Yang tersisa hanyalah getaran halus—bukan suara, bukan bayangan—melainkan kehadiran nilai.
melainkan sebagai prinsip:
keteguhan, kehormatan, dan tanggung jawab yang diwariskan lintas generasi.
Amanah itu bukan permintaan jabatan,
melainkan kekuatan untuk layak memikul jabatan.
maka kuatkanlah niatnya, bukan posisinya.
Jika ia harus naik, biarlah naik karena pantas,
bukan karena didorong nafsu.”
berasal dari dasar tulang punggung, merambat ke dada, lalu berhenti di kepala.
Bukan getaran yang memaksa,
melainkan penegasan batin.
melainkan memastikan ia tidak kehilangan arah saat berada di sana.
Dorongan agar ia tetap rendah hati di tengah hormat,
tetap jujur di tengah godaan,
dan tetap ingat bahwa jabatan hanyalah titipan waktu.
melainkan sesuatu yang harus mampu dipertanggungjawabkan.
namun menenangkan.
Seolah mengingatkan:
akan dijaga jalannya.”
Karena aku paham, leluhur tidak menuntut sumpah—
mereka menilai kesungguhan yang konsisten.
berkata secukupnya,
mendoakan seperlunya,
dan menjaga batin agar tidak tergoda merasa berperan lebih besar dari yang seharusnya.
yang paling berbahaya bukan kegagalan,
melainkan merasa paling berjasa.
maka aku berharap satu hal saja:
melainkan agar jejak langkahnya membawa kebaikan yang bertahan lebih lama dari jabatannya sendiri.
Penulis : Yasin Kesuma
Editor : redaksi Tikampost









