Ferdiansyah Soroti Ketimpangan Infrastruktur Way Kanan: Jalan Desa Terabaikan

- Jurnalis

Selasa, 19 Mei 2026 - 22:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto Pemimpin Redaksi Media Jurnallampung, Ferdiansyah,

Foto Pemimpin Redaksi Media Jurnallampung, Ferdiansyah,

WAY KANAN,Tikampost.id – Wajah pembangunan infrastruktur di Kabupaten Way Kanan dinilai masih menunjukkan ketimpangan yang mencolok antara wilayah pusat kota dan daerah pinggiran. Di satu sisi, ruas jalan di kawasan Baradatu dan sekitarnya tampak mulus, lebar, dan terang. Namun di sisi lain, sejumlah jalan penghubung desa di Kecamatan Banjit, Pakuan Ratu hingga Gunung Labuhan masih rusak, berlumpur saat hujan, dan berdebu ketika musim kemarau tiba.

Kondisi tersebut memunculkan kritik bahwa pembangunan masih lebih berorientasi pada proyek yang mudah terlihat dibanding kebutuhan dasar masyarakat desa.

Pemimpin Redaksi Media Jurnallampung, Ferdiansyah, menilai ketimpangan pembangunan yang terjadi bukan hanya persoalan tampilan fisik wilayah, melainkan mencerminkan pola kebijakan yang lebih mengutamakan proyek-proyek yang mudah terlihat publik.

“Ketimpangan ini bukan sekadar soal estetika pembangunan. Ini cermin bahwa arah pembangunan masih terjebak pada logika yang penting terlihat dulu,” ujar Ferdiansyah, Selasa (19/5/2026).

Menurutnya, pembangunan jalan di pusat kota memang lebih cepat dirasakan dan mudah dijadikan indikator keberhasilan pemerintah. Namun dampaknya berbeda dengan pembangunan jalan produksi di wilayah pertanian dan perkebunan yang justru menjadi urat nadi ekonomi masyarakat Way Kanan.

Sebagai daerah agraris dengan slogan Way Kanan Bumi Petani, mayoritas masyarakat menggantungkan hidup dari sektor kopi, karet, sawit, singkong, hingga padi. Sayangnya, akses jalan yang rusak membuat distribusi hasil panen menjadi terhambat.

Baca Juga :  Even Festival Memancing di Kepulauan Banyak Borong Hadiah Jutaan Rupiah

“Kalau jalan ke kebun rusak, biaya angkut naik. Petani akhirnya terpaksa menjual murah karena posisi tawarnya lemah. Jalan rusak di kampung pada akhirnya sama saja memelihara kemiskinan,” katanya.

Ia menilai persoalan utama bukan semata keterbatasan anggaran, melainkan soal prioritas kebijakan. Dalam beberapa tahun terakhir, belanja infrastruktur di APBD disebut tetap tersedia, namun distribusinya dianggap belum merata.

“Proyek yang cepat selesai dan punya dampak politik biasanya lebih diprioritaskan dibanding jalan desa yang manfaat ekonominya justru lebih besar tapi kurang populer,” ujarnya.

Padahal, lanjut dia, pembangunan jalan usaha tani memiliki dampak langsung terhadap perekonomian warga. Perbaikan satu kilometer jalan produksi disebut mampu menekan biaya logistik hingga 30 persen dan mengurangi risiko kerusakan hasil panen.

Selain itu, penggunaan data dinilai belum maksimal dalam menentukan prioritas pembangunan. Di era digital dan program Satu Data Indonesia, kondisi jalan rusak sebenarnya dapat dipetakan secara detail melalui laporan pemerintah kampung maupun Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR).

Baca Juga :  ISRO MI'ROJ ADALAH UNTUK MENGENANG KEMBALI PERISTIWA NABI MUHAMAD SAW MENDAPAT PERINTAH SHALAT LANGSUNG DARI ALLAH SWT.

“Masalahnya data itu sering tidak menjadi dasar utama saat penyusunan Musrenbang dan APBD. Akibatnya yang diprioritaskan justru jalan yang dekat dengan pusat kekuasaan, bukan yang paling mendesak dibutuhkan masyarakat,” ungkapnya.

Ia juga menegaskan bahwa dampak jalan rusak tidak hanya menyangkut kenyamanan berkendara. Infrastruktur yang buruk turut mempengaruhi akses pendidikan, kesehatan hingga pertumbuhan ekonomi desa.

“Anak-anak bisa terlambat sekolah karena akses terputus. Ibu hamil sulit dirujuk ke puskesmas. Investor kecil juga enggan masuk kampung karena ongkos logistik mahal,” katanya.

Karena itu, konsep pembangunan dari pinggiran diminta tidak berhenti sebagai slogan semata. Pemerintah daerah diharapkan mulai memprioritaskan pembangunan jalan produksi, jalan penghubung antarkampung, serta jembatan kecil yang selama ini menjadi akses utama masyarakat desa.

“Kepala daerah yang berhasil bukan hanya yang bisa membangun jalan mulus di depan kantor bupati, tapi yang mau turun ke kampung dan memastikan hasil tani warga bisa keluar tanpa hambatan,” tuturnya.

Kini masyarakat menanti arah kebijakan pembangunan Way Kanan ke depan, apakah masih akan mempertahankan pola lama yang terpusat di kawasan perkotaan atau mulai memberi perhatian serius pada jalan-jalan desa yang selama ini dinilai terabaikan.

(Hendri Darmawan)

Berita Terkait

Semarak HUT ke-81 RI, Koramil 1011-07 Kapuas Barat Gelar Lomba Panjat Pinang Anak-Anak
Sanggahan Tim Investigasi soal Klaim Kepemilikan Tambang Bukit Gemuruh, Sebut Inisial H Bukan P dan C
Polres Dharmasraya Siapkan 13 Kendaraan Hias untuk Meriahkan Pawai Budaya HUT RI ke-81
Khidmat dan Meriah, Bupati Way Kanan Ayu Asalasiyah Pimpin Upacara HUT RI ke-81
Peringati HUT RI ke-81, 388 Warga Binaan Lapas Way Kanan Terima Remisi; 9 Langsung Bebas
Upacara HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Kapuas Barat Berlangsung Khidmat dan Lancar
Curanmor di Koto Besar Terungkap, Tim Alang Bateh Satreskrim Polres Dharmasraya Amankan Terduga Pelaku
UPT KPHL Kapuas Kahayan Gerak Cepat Tangani Kebakaran Hutan dan Lahan di Mantangai

Berita Terkait

Kamis, 20 Agustus 2026 - 11:27 WIB

Semarak HUT ke-81 RI, Koramil 1011-07 Kapuas Barat Gelar Lomba Panjat Pinang Anak-Anak

Kamis, 20 Agustus 2026 - 07:29 WIB

Sanggahan Tim Investigasi soal Klaim Kepemilikan Tambang Bukit Gemuruh, Sebut Inisial H Bukan P dan C

Kamis, 20 Agustus 2026 - 07:22 WIB

Polres Dharmasraya Siapkan 13 Kendaraan Hias untuk Meriahkan Pawai Budaya HUT RI ke-81

Senin, 17 Agustus 2026 - 14:50 WIB

Khidmat dan Meriah, Bupati Way Kanan Ayu Asalasiyah Pimpin Upacara HUT RI ke-81

Senin, 17 Agustus 2026 - 14:17 WIB

Peringati HUT RI ke-81, 388 Warga Binaan Lapas Way Kanan Terima Remisi; 9 Langsung Bebas

Berita Terbaru