Pesan dari Penjaga Rimba Kahayan
Kisah ini adalah pengalaman nyata yang aku alami sendiri.
Perjalanan pertamaku ke Kalimantan Tengah bermula dari sebuah undangan seorang teman lama, sebut saja Pak Rudi (48), nama samaran. Ia adalah pegawai negeri di salah satu instansi pelayaran. Selama ini, jika urusan supranatural muncul dalam hidupnya, entah kenapa, Rudi selalu menghubungiku—padahal aku tinggal di kota besar, Jakarta, jauh dari rimba Kalimantan.
Sekitar 23 Agustus 2025, aku berangkat dan mendarat di Bandara Syamsudin Noor, Kalimantan Selatan. Dari sana aku dijemput oleh sopir Pak Rudi, Pak Galang (52), juga nama samaran. Sepanjang perjalanan kami berbincang ringan, soal jarak tempuh, kondisi jalan, dan cerita-cerita daerah.
Tanpa terasa, kami sudah melintasi Jembatan Barito. Tak lama kemudian, mobil kami melewati batas wilayah Kalimantan Selatan menuju Kalimantan Tengah. Di tengah perjalanan, Pak Galang mulai bercerita pelan, seolah menjaga nada suaranya.
“Mas, daerah yang kita lewati ini dulu ada kampung Bali. Zaman dulu orang-orang Bali transmigrasi ke sini.”
Benar saja. Tak lama kemudian, mataku menangkap deretan menara dan patung khas Bali di kanan kiri jalan. Pemandangan itu indah, tapi entah kenapa udara terasa sedikit lebih berat.
Lalu… sesuatu membuat jantungku berdegup keras.
Di sebuah rumah, tepat di balik pepohonan, aku melihat sesosok makhluk mirip kera. Tubuhnya tinggi besar, berbulu lebat, dan matanya merah menyala. Tatapannya tajam, lurus ke arah mobil kami—tanpa berkedip.
Sebagai pendatang, aku spontan menundukkan batin. Dengan suara lirih, aku mengucap dalam hati,
“Permisi… kami hanya lewat.”
Aneh tapi nyata, makhluk itu perlahan mengalihkan pandangannya, seakan menerima permisi itu. Mobil kami terus melaju, dan Pak Galang tetap fokus menyetir, seolah tak terjadi apa-apa.
Tak lama kemudian, kami tiba di tujuan. Aku disambut hangat oleh Pak Rudi. Kami sempat duduk di kantin dekat kantornya, berbincang singkat, lalu menuju mess yang letaknya tak jauh dari sana.
Menjelang waktu magrib, kesadaranku terasa seperti terbelah. Di antara sadar dan tidak, aku melihat sebuah perkampungan yang sangat ramai. Banyak orang lalu-lalang, suasananya hidup—padahal logikaku tahu, tempat itu seharusnya sepi.
Aku ingin bertanya pada Pak Rudi. Tapi anehnya, ia tak kunjung keluar dari kamarnya. Waktu terasa berjalan lambat, terlalu lambat.
Hingga tiba-tiba, aku tersentak.
Seekor kucing kecil datang menghampiriku, menggesekkan tubuhnya ke kakiku. Saat itulah kesadaranku kembali sepenuhnya.
Sekitar 30 menit kemudian, suasana mendadak berubah. Di hadapanku berdiri seorang sosok lelaki setengah baya, kira-kira berusia 60 tahun. Wajahnya tenang, sorot matanya dalam—bukan tatapan manusia biasa.
Ia menatapku dan berkata dengan suara berat namun berwibawa:
“Aku sudah tahu siapa kamu.
Tolong sampaikan kepada teman-temanmu: rawat dan jaga daerah ini. Jangan dirusak. Jangan lalai.
Jika alam ini rusak, akan ada bencana yang harus mereka bayar.”
Aku terpaku, tak mampu menyela.
Ia melanjutkan,
“Sampaikan salamku kepada temanmu. Kami akan selalu menjaga wilayah ini, selama mereka taat dan menghormati alam.
Dan kau… kau mendapat salam dari Panglima Besar kami yang di selatan.”
Usai menyampaikan pesan itu, sosok tersebut menghilang begitu saja.
Tak ada suara langkah, tak ada bayangan, tak satu pun jejak tertinggal.
Malam itu aku paham satu hal:
Di Kalimantan, hutan bukan sekadar hamparan pohon. Ia bernyawa, memiliki penjaga, dan menyimpan hukum yang tak tertulis.
Manusia hanya tamu.
Jika lupa diri dan serakah, alam akan menagih dengan caranya sendiri.
Penulis : Yasin Kesuma
Editor : redaksi Tikampost









