kalimantan selatan-tikampost
Perkenalkan, namaku Ahim. Aku berasal dari Kota Medan, Sumatera Utara. Pada tahun 2013 silam, aku merantau ke Kalimantan Selatan, tepatnya ke Kota Banjarmasin, bersama istriku. Kami menetap di daerah Kuin Selatan, sebuah kawasan tua yang sarat dengan sejarah dan cerita mistis.
Di lingkungan itu, aku dikenal sebagai ahli supranatural. Bukan karena aku mengaku, melainkan karena sering membantu warga yang mengalami gangguan di luar nalar. Namaku mulai dikenal setelah diperkenalkan oleh sahabatku, Muhammad Radit (42), warga asli Banjarmasin yang sudah kuanggap seperti saudara sendiri.
Melalui Radit, aku kemudian dipertemukan dengan seorang pria yang dulu pernah menjabat sebagai lurah di wilayah tersebut. Sebut saja namanya Pak Husen (50) — bukan nama sebenarnya.
Kedatangan yang Tak Biasa
Kejadian ini bermula pada hari Selasa, namun entah mengapa dalam ingatanku terasa seperti hari Senin. Sejak awal saja, waktu sudah terasa janggal.
Sore itu, Pak Husen datang ke rumah kontrakanku. Wajahnya terlihat pucat, matanya cekung seakan kurang tidur berhari-hari. Setelah berbincang sebentar, ia langsung menyampaikan maksud kedatangannya.
Pak Husen mengeluhkan sebidang tanah miliknya yang rencananya akan dikelola menjadi pasar tradisional, bernama Pasar Tradisional Saddam Husen, yang terletak di wilayah Banjarmasin.
Namun, sejak proses pengelolaan dimulai, gangguan demi gangguan terus terjadi.
Teror di Lokasi Pasar
Menurut penuturan Pak Husen, para pekerja sering mengalami kejadian aneh.
Mulai dari:
- Teror tanpa wujud, seperti suara langkah kaki di malam hari
- Mimpi buruk berulang, melihat sosok hitam berbulu
- Kesurupan, bahkan ada satu pekerja yang mengamuk sambil berperilaku seperti kera, memanjat dan berteriak dengan suara bukan suara manusia
- Beberapa pekerja jatuh sakit tanpa sebab medis yang jelas
Semakin hari, jumlah pekerja semakin berkurang. Banyak yang memilih mundur karena ketakutan.
Pak Husen mengaku sudah mencoba memanggil orang pintar, tapi gangguan justru semakin menjadi.
Peringatan dari Warga Setempat
Puncaknya terjadi ketika salah satu pekerja berbincang dengan warga sekitar bernama Pak Gani (55), penduduk lama yang sudah puluhan tahun tinggal di kawasan itu.
Dengan nada serius, Pak Gani bertanya:
“Kalian sebelum mengerjakan tempat ini… sudah permisi belum?”
Pekerja itu hanya terdiam.
Pak Gani lalu menjelaskan bahwa tanah tersebut bukan tanah kosong biasa. Sejak dulu, kawasan itu dikenal sebagai wilayah yang “dihuni makhluk alam sebelah”. Bukan untuk diganggu sembarangan, apalagi dijadikan pusat keramaian tanpa izin secara batin.
Konon, pasar itu berdiri tepat di jalur lintasan makhluk halus penjaga wilayah Kuin Selatan.
Awal dari Terbukanya Tabir
Setelah mendengar cerita Pak Husen, bulu kudukku meremang. Ada energi berat yang menempel pada kisah itu. Aku tahu, ini bukan gangguan biasa.
Aku menatap Pak Husen dan berkata pelan,
“Pak… kalau ini benar, berarti bukan hanya soal izin manusia. Ada yang merasa wilayahnya direbut.”
Pak Husen menunduk. Tangannya gemetar.
Sejak malam itu, aku memutuskan untuk mendatangi langsung lokasi Pasar Saddam Husen.
Dan di sanalah aku pertama kali melihat mereka.
Namun, apa yang kulihat malam itu…
akan kuceritakan di lain waktu.
(Bersambung)
Penulis : Yasin Kesuma
Editor : redaksi tikamPost









