TikamPost.co.id,Tahuna,Sangihe, Suasana khidmat dan penuh penghayatan mewarnai Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Tahuna saat pelaksanaan Ibadah Jumat Agung bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP). Jumat (18/04). Ibadah ini menjadi momen penting bagi umat Kristiani, terlebih khusus Warga Binaan Lapas Tahuna untuk merefleksikan makna pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib.
Ibadah Jumat Agung dipimpin oleh Ketua Jemaat GMIST Efrata Tahuna, Pendeta Oktivani Towoliu-Tingginehe, M.Th, dengan pembacaan Alkitab diambil dari Matius 27:45-56, yang mengisahkan detik-detik kematian Yesus dan peristiwa-peristiwa supranatural yang menyertainya.

Dalam khotbahnya, Pendeta Oktivani Towoliu-Tingginehe mengajak Warga Binaan untuk merenungkan kasih dan pengorbanan Kristus yang membawa keselamatan bagi umat manusia.
“Kematian Yesus bukan akhir dari cerita, tetapi awal dari kehidupan yang baru. Dalam penderitaan-Nya, kita menemukan pengharapan. Bahkan dalam tempat seperti ini, Tuhan tetap hadir dan bekerja membawa pemulihan,” ujar Pendeta Oktivani dalam renungannya.
Ibadah ini juga dirangkaikan dengan Perjamuan Kudus, sebagai lambang pengingat akan tubuh dan darah Kristus yang dikorbankan bagi keselamatan umat manusia. Suasana menjadi semakin sakral ketika WBP dengan penuh penghayatan mengikuti sakramen ini.
Pelayanan ibadah turut didukung oleh Majelis Pekerja Jemaat (MPJ) GMIST Efrata Tahuna, yang bersama-sama melayani dan membimbing warga binaan dalam suasana penuh kekeluargaan dan kasih.
Kepala Lapas Tahuna, Iskandar Djamil, melalui Kepala Kesatuan Pengamanan Lapas (Ka. KPLP), Danres Siburian, menyampaikan ucapan terimakasih atas pelaksanaan ibadah yang berjalan lancar serta memberikan pesan mendalam kepada seluruh Warga Binaan.
“Momen Jumat Agung ini kiranya menjadi kesempatan untuk merefleksikan diri, memperbaiki kehidupan, dan terus bertumbuh dalam iman. Kami percaya, setiap pribadi berhak untuk berubah dan memiliki masa depan yang lebih baik,” ujarnya.
Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen Lapas Tahuna dalam memberikan pembinaan kepribadian bagi Warga Binaan melalui pendekatan spiritual, sehingga mereka dapat menjalani masa pidana dengan penuh makna dan harapan.
#MikeTowira









