JutaTikamPost.id, Sangihe — Keberanian membaca peluang usaha mengantarkan seorang warga Kelurahan Mahena, Kecamatan Tahuna, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, meraih keuntungan puluhan juta rupiah setiap bulan dari bisnis peternakan ayam aduan impor asal Filipina.
Pria tersebut adalah Mike Towira (45), warga Jalan Puskesmas, RT 02 Lingkungan I, Kelurahan Mahena. Mike sukses mengembangkan peternakan ayam aduan jenis Filipina yang dikenal memiliki kualitas unggul dan nilai jual tinggi di kalangan penghobi ayam petarung.
Kepada awak media TikamPost.id, Mike mengungkapkan bahwa dari usaha yang ditekuninya, ia mampu meraup omzet hingga Rp50 juta per bulan, bergantung pada permintaan pasar. Ayam-ayam hasil ternaknya diminati pembeli dari berbagai daerah di Indonesia, di antaranya Balikpapan, Tarakan, Makassar, Toraja, Kendari, Bali, Jakarta, Surabaya, Batam, Palembang, hingga Papua.

Mike menuturkan, awal terjun ke dunia peternakan ayam aduan dilandasi keberanian dan tekad kuat, meski saat itu ia belum memiliki pengetahuan tentang perayaman.
“Awalnya saya benar-benar nol, baik soal jenis ayam maupun perawatannya. Namun saya melihat peluang usaha yang besar, sehingga memberanikan diri untuk memulai,” ujarnya.


Dengan modal awal sekitar Rp70 juta, Mike membeli ayam pertamanya seharga Rp15 juta. Ia kemudian menambah populasi dengan membeli 12 ekor ayam jantan seharga Rp12,5 juta per ekor serta enam ekor ayam betina senilai Rp20 juta. Seiring waktu, ia terus mengembangkan kemampuan melalui diskusi dan belajar dari peternak serta breeder berpengalaman.
Untuk menjaga kualitas, Mike mendatangkan berbagai jenis ayam impor unggulan dari Filipina, seperti Sweater, Hatch, Roundhead, Aseel, serta trah populer lainnya, antara lain Golden Boy Sweater, Raptor Sweater, Bonecrusher Hatch, Ruble Hatch, Leiper Hatch, hingga Popeye Grey. Ayam-ayam tersebut berasal dari breeder dan gamefarm ternama di Filipina.
Berkat perawatan yang konsisten dan manajemen yang baik, usaha Mike berkembang pesat hingga menembus pasar nasional. Baru-baru ini, ia mengirim 16 ekor ayam ke berbagai daerah dengan harga jual mencapai Rp5 juta per ekor.
Saat ini, Mike memelihara sekitar 600 ekor ayam dengan biaya operasional sekitar Rp2 juta per bulan, meliputi kebutuhan pakan, multivitamin, serta upah tenaga kerja. Harga jual ayam jantan di kandangnya berkisar antara Rp2,5 juta hingga Rp5 juta per ekor, sementara ayam betina dijual dengan harga Rp2 juta hingga Rp3 juta per ekor.
“Menurut saya, usaha ternak ayam Filipina ini sangat menjanjikan jika dikelola secara serius dan konsisten,” pungkas Mike. Ia juga mengungkapkan pernah mengikuti sejumlah kejuaraan derby ayam di Bacolod, Filipina, seperti Bakbakan, Digman, dan GF Ban.
Penulis : Yasin Kesuma
Editor : redaksi tikamPost









