Meulaboh, Tikampos.id –
Kabupaten Aceh Barat, yang dulunya dikenal sebagai penghasil buah rumbia dalam jumlah besar, kini hanya menyisakan kenangan. Selama 15 tahun terakhir, pohon rumbia di daerah ini tak lagi berbuah, berdampak pada penjualan rujak di Meulaboh yang kehilangan cita rasanya. “Rujak kurang sedap tanpa buah rumbia,” ungkap Eti di Meulaboh pekan lalu.
Namun, hilangnya buah rumbia tak berarti berakhirnya nilai ekonomis pohon tersebut. Batang rumbia, yang kini disebut batang sagu, memiliki nilai jual tersendiri. Adi, warga Dusun Monkulu Gampong Ladang Kecamatan Sama Tiga, Kabupaten Aceh Barat, mengatakan, “Batang sagu yang sudah tinggi bisa diolah menjadi makanan tambahan atau pakan ternak. Kami bisa menjualnya seharga Rp70.000 per batang. Setelah dipotong-potong (ukuran 1 meter) menggunakan mesin senso, kami jual lagi ke peternakan ayam dan itik seharga Rp25.000 per potong. Keuntungannya memang sedikit,” ujarnya.
Sementara itu, daun rumbia masih dimanfaatkan sebagai bahan atap rumah. Dengan harga Rp6.000 per gagang, dan kemampuan menjahit 5-15 gagang per hari, penghasilan dari daun rumbia bisa mencapai Rp90.000 per hari, membantu meringankan beban ekonomi keluarga.
Meskipun tak lagi menghasilkan buah, pohon rumbia di Aceh Barat masih memberikan manfaat ekonomi melalui batang dan daunnya. Hal ini menunjukkan potensi ekonomi alternatif yang dapat dikembangkan dari sumber daya lokal yang ada.
(Muhibbul Jamil)









