Jakarta, Tikampost.id — Warga Cengkareng Barat mendesak Polsek Cengkareng segera menertibkan dugaan aksi premanisme berkedok penagihan utang oleh oknum debt collector, yang kerap disebut “mata elang” (matel), yang kembali menarik paksa kendaraan di jalan.
Peristiwa itu terjadi di Jalan Utama 8, Cengkareng Barat, Kecamatan Cengkareng, Senin siang (2/2/2026). Sejumlah pria yang mengaku sebagai debt collector diduga mencoba menarik paksa sepeda motor Honda PCX milik seorang perempuan saat korban tengah berhenti membeli makanan.
Berdasarkan keterangan saksi, para pria tersebut mendatangi korban dan menanyakan kepemilikan kendaraan. Mereka kemudian melarang korban meninggalkan lokasi dengan alasan adanya tunggakan cicilan.
Korban yang merasa terintimidasi segera menghubungi keluarganya. Ketegangan meningkat ketika oknum matel itu memegang kendaraan korban dan tetap memaksa meski diminta menunjukkan legalitas penarikan.
“Kami mempertanyakan kewenangan mereka. Tidak ada surat, tidak ada polisi, tapi berani tarik motor di jalan,” ujar Suroto, ayah korban, di lokasi kejadian.
Situasi semakin memanas saat korban merekam kejadian tersebut. Ponsel korban dilaporkan hampir direbut, dan terjadi aksi dorong-dorongan. Keributan itu menarik perhatian warga sekitar yang kemudian berdatangan dan menolak upaya penarikan paksa tersebut.
Sejumlah warga menilai tindakan tersebut sebagai bentuk intimidasi yang menyerupai praktik premanisme di ruang publik.
Warga pun meminta kepolisian tidak tinggal diam. Mereka mendesak Polsek Cengkareng segera menertibkan praktik penagihan utang yang dilakukan secara paksa di jalan.
“Ini bukan soal cicilan saja, tapi soal rasa aman. Kalau begini terus, warga bisa jadi korban berikutnya. Polisi harus turun,” kata seorang warga.
Selain itu, masyarakat juga meminta polisi mengusut identitas para pria yang mengaku sebagai debt collector serta menindak tegas apabila ditemukan pelanggaran hukum.
Upaya penarikan kendaraan akhirnya batal setelah warga berkumpul dan menekan para pria tersebut untuk meninggalkan lokasi. Tidak ada korban luka dalam peristiwa itu, namun kejadian tersebut meninggalkan trauma dan kekhawatiran di kalangan warga.
Warga berharap aparat kepolisian meningkatkan patroli dan pengawasan agar praktik serupa tidak kembali terjadi di wilayah Cengkareng.
Penulis : RIDWAN SULAIMAN
Editor : Tikampost









