SANGIHE, TIKAMPOST.ID– Dinas Kesehatan Daerah (Dinkesda) Kabupaten Kepulauan Sangihe mulai memperkuat upaya percepatan eliminasi Tuberkulosis (TBC) melalui Program Sistem Akselerasi Nusantara Tangguh Eliminasi Tuberkulosis (SANTER-TB).
Program tersebut diawali dengan pelatihan kader kesehatan dan sosialisasi yang dilaksanakan di tiga kecamatan percontohan, yakni Tahuna, Tahuna Timur, dan Tahuna Barat.
Sebanyak dua kader dari setiap kelurahan dilibatkan untuk membantu edukasi masyarakat, melakukan skrining, investigasi kontak, serta mendampingi pasien selama menjalani pengobatan.
Kepala Dinkesda Kabupaten Kepulauan Sangihe, dr. Handry Pasandaran, ME, mengatakan keterlibatan masyarakat menjadi salah satu kunci penting dalam mencapai target eliminasi TBC pada tahun 2030.
“Target eliminasi TBC semakin dekat. Kita tidak bisa hanya menunggu pasien datang ke fasilitas kesehatan. Skrining, investigasi kontak, dan edukasi harus dilakukan secara aktif,” ujar Handry saat membuka pelatihan kader, Selasa (2/6/2026).
Menurutnya, Indonesia masih menjadi salah satu negara dengan jumlah kasus TBC tertinggi di dunia. Karena itu, pengendalian penyakit tersebut membutuhkan dukungan seluruh elemen masyarakat.
Ia mengakui masih terdapat sejumlah tantangan dalam penanganan TBC, di antaranya rendahnya kepatuhan pasien dalam menyelesaikan pengobatan serta masih adanya kontak erat pasien yang enggan menjalani pemeriksaan.
“Ketika satu pasien TBC ditemukan, anggota keluarga, tetangga terdekat, hingga rekan kerja yang sering berinteraksi harus diperiksa. Ini penting untuk memutus rantai penularan,” katanya.
Selain mengoptimalkan peran kader kesehatan, Program SANTER-TB juga memanfaatkan teknologi digital melalui sistem Electronic Directly Observed Treatment (e-DOT). Sistem ini memungkinkan pasien melaporkan konsumsi obat secara daring dan dipantau langsung oleh petugas kesehatan.
Aplikasi tersebut juga dilengkapi layanan konsultasi berbasis kecerdasan buatan (AI) dan chatbot yang membantu pasien memperoleh informasi seputar pengobatan TBC.
Berdasarkan data Dinkesda, sepanjang tahun 2025 tercatat sebanyak 547 kasus TBC di Kabupaten Kepulauan Sangihe. Sementara hingga Mei 2026 terdapat 162 kasus TBC sensitif obat dan lima kasus TBC resisten obat, sehingga total pasien yang sedang menjalani penanganan mencapai 167 orang.
Meski demikian, Handry menegaskan meningkatnya jumlah kasus yang ditemukan tidak selalu menunjukkan kondisi yang memburuk.
“Yang berbahaya bukan kasus yang ditemukan, tetapi kasus yang tidak terdeteksi sehingga pasien tidak mendapatkan pengobatan,” tegasnya.
Saat ini Program SANTER-TB masih diterapkan sebagai proyek percontohan di tiga kecamatan. Dinkesda akan melakukan evaluasi sebelum memperluas implementasinya ke seluruh wilayah Kabupaten Kepulauan Sangihe.
“Semakin banyak pihak yang terlibat, semakin besar peluang kita mencapai target eliminasi TBC pada tahun 2030,” pungkasnya.
Penulis : Maekel Towira
Editor : Tikampost










